Oleh: Ust. Zulfikar Tamher
Salah satu bacaan yang sangat akrab di lidah kaum Muslimin adalah isti‘ādzah — doa memohon perlindungan sebelum membaca Al-Qur’an — sebagaimana perintah Allah dalam firman-Nya:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيمِ
Artinya, “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Naḥl: 98)
Bacaan isti‘ādzah yang kita kenal secara umum adalah:
أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيمِ
A‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm
Artinya, “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Namun dalam praktiknya, sebagian orang menambahkan kata “godaan” dalam terjemahan, sehingga menjadi:
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Padahal tambahan satu kata ini mengubah dan mempersempit makna yang dimaksud dalam kalimat tersebut.
Makna Asli Kalimat Isti‘ādzah
Kata أعوذ (a‘ūdzu) berarti “aku berlindung”, yakni mencari perlindungan dan penjagaan yang kuat dari Allah Swt. Sedangkan من الشيطان الرجيم berarti “dari setan yang terkutuk”.
Kata من (min) dalam bahasa Arab di sini bersifat umum: mencakup seluruh bentuk kejahatan setan — baik waswas, tipu daya, bujukan, rayuan, bisikan, keraguan, kemarahan, dan semua jalan yang mengarah pada maksiat atau kesesatan.
Maka, arti yang tepat adalah:
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Tanpa perlu menambahkan kata godaan, karena kata tersebut hanyalah salah satu bentuk dari kejahatan setan, bukan seluruhnya.
Bahaya Menambah atau Mengurangi Satu Kata
Dalam bahasa Arab, penambahan atau pengurangan satu kata saja bisa mengubah makna. Misalnya, jika kita menambah kata “godaan” dalam isti‘ādzah, maka seolah-olah kita hanya berlindung dari godaan setan saja, bukan dari setannya secara keseluruhan. Padahal, yang kita minta perlindungan darinya adalah dzat setan itu sendiri, termasuk semua kejahatan yang muncul darinya.
Ini sama seperti jika seseorang berkata,
“Aku berlindung dari gigitan ular,”
berbeda maknanya dengan,
“Aku berlindung dari ular.”
Yang pertama hanya membatasi perlindungan pada gigitan, sedangkan yang kedua mencakup semua bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh ular.
Demikian pula isti‘ādzah. Jika kita batasi pada “godaan”, maka perlindungan kita tidak mencakup seluruh tipu daya setan yang jauh lebih luas.
Pandangan Ulama Tafsir
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa isti‘ādzah adalah bentuk permohonan agar Allah melindungi hamba dari semua pengaruh setan yang bisa merusak hati, akal, dan amalnya. Beliau berkata dalam Zādul Ma‘ād:
“Isti‘ādzah mencakup permohonan perlindungan dari semua jenis kejahatan setan — baik dalam agama, dunia, hati, jasad, harta, maupun amal.”
Artinya, makna isti‘ādzah jauh lebih luas daripada sekadar “godaan”.
Kesimpulan
Terjemahan bacaan isti‘ādzah yang benar dan utuh adalah:
أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.“
Tidak perlu menambah kata “godaan”, sebab kalimat tersebut sudah mencakup seluruh bentuk kejahatan setan. Menambah satu kata dapat mempersempit makna. Dalam bahasa Arab, struktur kalimatnya sudah sempurna tanpa tambahan apa pun.
Penutup
Bacaan isti‘ādzah bukan sekadar formalitas, tapi bentuk kesadaran bahwa manusia lemah di hadapan tipu daya setan, dan hanya Allah yang mampu melindungi. Karena itu, mari kita jaga keaslian maknanya sebagaimana yang diajarkan Al-Qur’an dan Rasulullah Saw: berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, bukan hanya dari “godaannya”.
Wallahu ‘alam bish-shawab.







